Virus Corona vs Virus Road Safety (1)

Indonesia saat ini masih disibukkan dengan wabah virus Corona. Virus Corona menular melalui droplet yaitu percikan ludah atau bersin seseorang yang positif mengidapnya. Seperti info dari kanal IG @4Life_safety , jarak terjauh penularan melalui droplet bisa mencapai jarak hingga 1.8 meter. Nah sehubungan dengan itu maka setiap orang yang punya gejala pilek atau batuk disarankan menggunakan masker, bukan sebaliknya. Lalu apa hubungannya dengan kampanye keselamatan jalan? Kita singgung sedikit yuk.

Geliat antisipasi virus Corona ini tampak sangat masif bahkan di level masyarakat terjadi gerakan serbu masker hingga “panic buying” beberapa kebutuhan pokok. Fenomena yang seolah-olah mengejawantahkan skenario film Resident Evil ke dunia nyata, film khayalan yang berkutat soal bocornya virus dan mengubah manusia menjadi zombie.

Padahal jika ditelisik penggunaan masker seperti yang terjadi saat ini sudah tidak tepat guna. Alih-alih dipakai yang sakit justru yang sehat cepat-cepat memproteksi diri tanpa lebih dulu mengetahui lebih dalam tentang virus Corona ini. Masih dikutip dari laman IG @4Life_safety , masker tidak disarankan sebagai langkah pencegahan tapi justru pencegahannya ada di frekuensi mencuci tangan baik dengan air dan sabun atau dengan cairan pembersih tangan berbasis alkohol sebagai antisipas adanya partikel virus yang menempel.

View this post on Instagram

Perlukah kita panik menghadapi COVID-19? Yuk, simak tulisan dr.Lelitasari,MKK, Founder 4life berikut ini.. Pak Presiden mengkonfirmasi dua orang Indonesia positif tertular COVID-19. Bagaimana sikap kita merespon berita tersebut? Haruskah kita panik? Pertama pahami bagaimana SARS-CoV-2 virus penyebab COVID-19 ini menular dari orang ke orang. Virus ini menular melalui droplet, yaitu percikan ludah atau bersin seseorang yang positif. Jarak terjauh penularan melalui droplet ini adalah 1,8 meter. Jadi virus ini nggak terbang-terbang di udara. Makanya masker tidak disarankan sebagai langkah pencegahan. Justru yang harus dilakukan adalah rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun atau hand sanitizer berbasis alkohol karena ada kemungkinan droplet menempel di tangan kita saat menyentuh benda-benda yang terkontaminasi droplet. Masker disarankan dipakai oleh seseorang yang positif SARS-CoV-2 untuk mencegah droplet menyebar. Belum diketahui secara pasti berapa lama SARS-CoV-2 bisa hidup dipermukaan benda, tetapi virus Corona yang sebelumnya mampu hidup dipermukaan benda hingga 9 hari. Oleh karena itu permukaan benda di tempat umum perlu dilap lebih sering menggunakan desinfektan (lift, pegangangan.tangga, pegangan eskalator, dll). Kedua, pahami fatality rate COVID-19 secara umum adalah sekitar 2,9%, jauh lebih kecil dibandingkan dengan MERS 37%, SARS 10% . Jika dilihat perkelompok umur maka semakin berumur risikonya semakin besar. Dan dari data menunjukkan kasus fatality lebih banyak terjadi pada pasien dengan penyakit penyerta sebelumnya (diantaranya adalah diabetes dan hipertensi). Ketiga, pahami infectivitynya. SARS-CoV-2 memiliki infectivity 1,4-4,08 artinya seseorang yang positif bisa menularkan kepada 1-4 orang lainnya. Ini lebih tinggi dibandingkan dengan SARS-CoV 1-2,75 dan MERS <1. Keempat, pahami riwayat bepergian dan riwayat kontak dengan orang-orang yang baru bepergian dari negara yang tinggi kasus COVID-19. Lanjut di kolom komen ya..

A post shared by Daya Hidup Semesta (@4life_safety) on

Corona memang unik. Sorotan jadi demikian dalam dan seperti menakutkan bagi setiap orang. Apakah kamu tau ada lagi wabah yang sama sekali jauh dari penanganan? Namanya wabah kecelakaan lalu lintas, entah apa nama ilmiahnya.

“Rata-rata 70-80 orang meninggal dunia di jalan raya setiap harinya karena kecelakaan lalu lintas. Mengapa hal itu tidak diributkan, tidak dicemaskan, dan tidak ditakuti? Tapi virus corona yang baru saja menjangkit ribut,” ungkap Djoko Setijowarna, seorang pengamat transportasi seperti dilansir dari laman Detikcom.

Singkatnya, ada 3 hingga 4 kematian di jalan raya setiap jam-nya akibat kecelakan lalu lintas. Angka yang belum bisa disamai oleh virus Corona. Orang harus segera terjangkit virus Road Safety agar angka tersebut tidak bergegas naik. Apa daya perhatian dari lapisan elemen-elemen di masyarakat belum terlihat.

3 Kematian setiap 1 Jam

Simak informasi berikut, angka kecelakaan lalu lintas tahun 2018 mencapai 139.374 orang. Jumlah terbesar korban kecelakaan lalu lintas berada di rentang usia 25-39 tahun. Nah bagaimana kita harus menyikapinya? Sudah saatnya virus Road Safety disebarkan agar tidak lagi membunuh banyak orang di jalan akibat lakalantas.

Tanpa mengecilkan bahaya virus asal Wuhan ini, ayo Indonesia juga harus mulai membuka mata soal kematian di jalan raya. (jess) | Foto : Google

0 comments on “Virus Corona vs Virus Road Safety (1)Add yours →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *